Kapan Nikah? #1

Kapan Nikah? Itu pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh teman2ku. Eitz!! Ngapain buru2 sih? Kayak udah tuir aja :D Secara usiaku juga masih 17 tahun lebih 7 tahun :v

Nah, disini diceritakan dari sudut pandang teman. Paling ogah kalo musim nikah. Dapet undangan yang mengharuskan aku datang seorang diri. Ah, rasanya dunia ini tak adil. hahaha.... Gak lucu banget kan datang kondangan seorang diri, trus sesampainya di tempat langsung ambil makan, duduk, diam tanpa ada yang dikenal kecuali tuan rumah yang pastinya tak ada waktu buat ngobrol khusus sama aku. Namanya juga banyak tamu.

Kejadian ini baru aja terjadi di Oktober 2015. Datang selembar undangan dari seorang client-ku yang orderannya menempati posisi kedua dari atas. Itu artinya ini orang penting dalam perusahaanku (ciiee perusahaan :v ).
Mau gak hadir pada undangan tersebut jg gak enak. Tapi kalo datang itu sama siapa? Seorang diri lagi? Oh Noooooo.....
Nah, dalam renungan pagi setelah menyeruput secangkir kopi, terbesit sebuah ide yang cukup gila. "Kenapa gak nyewa cewek aja buat nemenin kondangan?" Eits, tapi siapa ya? Aku buka satu persatu kontak di hape juga sosmed. Ketemu seorang temen yang sebut aja namanya Ika. Aku tanya apa dia punya temen yang kiranya bisa diajak kondangan gitu. Eh, dikasih referensi ama temennya yang ternyata tetangganya. Nah, singkat cerita aku hubungi dia dan ketemuan untuk mengatur rencana. Ternyata dia gak seperti yang di foto. Pada kenyataannya sih dia keliatan lebih cantik dengan balutan dress yang mini :p

Skip skip skip
Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Aku pergi kondangan sama dia (eh namanya tuh Yasmin). Hari itu dia sangat cantik sekali. Aku rada grogi juga liat pakaiannya. Otak langsung perpikir ini anak bakal jadi pusat perhatian orang2 nih. Ternyata emang bener gitu. Baru datang langsung jadi point view.
Tapi oke aja lah, hari itu berjalan lancar sesuai rencana. Aku sungguh tertolong olehnya. Tapi beberapa hari setelah itu aku jadi sering kepikiran dia. Ah, ini penyakit gak hilang2. Jangan jangan....


Takut Buka Usaha


Hmm,, sekarang ini jangan lagi berpikir untuk jadi karyawan. Emang mau sampai kapan jadi karyawan? Sedang umur kita bertambah terus. Kalo udah kepala tiga trus mendadak kena PHK ? Trus gimana nasib ente?

> Pingin sih... punya usaha sendiri. Tapi usaha apa ya?

Nah itu pertanyaan yg lucu dan kebanyakan dari teman2 saya juga berkata demikian.

Ada lima macam BINGUNG buka usaha :
1. Punya ide, mulai dari mana?
2. Punya tempat gak tau mau usaha apa?
3. Punya produk unggulan selanjutnya harus apa?
4. Gak punya ide sama sekali
5. Bingung kebanyakan ide

Punya ide, mulai dari mana?
INGET, ide nggak harus yg unik atau total baru. Dan jangan terlalu idealis. Ini kan bisnis pertama Anda. Misal nih, punya ide buka percetakan. Udah ada laptop sama printer. Ditambah peralatan jilid komplit. Tapi masih ditunda untuk segera buka. Alasannya kurang mesin ini.. mesin itu.. alat ini.. alat itu.. nunggu ini.. nunggu itu... Busyet!!! Ribet banget hidup lu :(
YANG PENTING BUKA. Selanjutnya bisa kerjasama dengan yg punya mesin cetak. Sambil ngumpulin duit buat beli mesin sendiri.

Nah, untuk 4 poin BINGUNG BUKA USAHA, dilanjut pada postingan berikutnya aja ya.. :D udah ngantuk nih mau bobo' dulu

http://abuddesign.blogspot.com/

Melihat Indonesia Dari Rumah Saya

Dikutip kembali dari http://andrelao.blogspot.com

 

Dalam obrolan ringan, saling mengenal kehidupan tiap-tiap teman. Ditengah-tengah kebisingan dan kepekatan bau menyengat ruangan mesin outdoor. Salah seorang teman memberikan suatu inspirasi untuk menuliskan ini.

Mengaku pernah merasakan bekerja pada suatu pabrik. Dikatakannya hanya sehari. hahaha... Mungkin lebih tepatnya meninjau tempat kerja. Saya sendiri pun juga pernah mampir ke pabrik tersebut. Sama persis dengan teman saya ini yang usianya 3 tahun lebih muda dari saya. Dia memaparkan pengalamannya pada teman-teman semua. Gaji yang akan diterima hanya lima belas ribu rupiah per hari. Nilai itu berlaku untuk cowok. Dan untuk cewek sebesar dua belas ribu rupiah per hari. Jam kerja mulai dari pukul tujuh pagi sampai dengan pukul lima sore. Istirahat satu jam.

Kenapa hanya SEHARI KERJA?
Bisa dibilang pekerjaannya itu seperti seorang kuli. Dari narik troli besar sampai troli yang dipenuhi bahan mentah, yang entah berapa ton beratnya. Lalu mengoperasikan mesin. Lebih tepatnya, memasang bahan mentah tadi ke mesin agar bisa diolah. Dan panasnya ruangan itu sangat menyiksa.
Sebandingkah pekerjaan yang dilakukan dengan gaji yang diterima?

Saya masih ingat, dulu saya pernah berkata terang-terangan kepada sang supervisor. "Mohon maaf Pak. Saya tertarik melamar disini karena dicantumkan lowongan pada posisi admin. Dan ternyata pekerjaannya seperti ini. Mendingan saya jadi kuli bangunan karena sehari bisa mendapatkan empat puluh ribu."

Ya, kurang lebih seperti itu. Memang saat itu informasi lowongan pekerjaan yang tercantum adalah berbagai posisi yang menarik. Mulai dari admin, kepala gudang, security, dll. Namun ternyata semua pelamar diwajibkan untuk merasakan posisi para kuli. haha... strategi yang bagus.

Dari teman saya, ternyata yang bekerja di pabrik itu sekarang adalah lulusan SMP. Semuanya. Memang sih, ijasah SMP sekarang bisa dibilang untuk apa. Lha wong yang sarjana aja banyak yang jadi pengangguran. Tapi dari penglihatan saya, mereka yang bekerja di pabrik itu adalah orang-orang yang memiliki tenaga ekstra. Dan pekerjaan di pabrik itu jika dibandingkan dengan pekerjaan sebagai kuli bangunan, maka lebih ringan sebagai kuli bangunan. Upah yang di dapat pun juga lebih besar kuli bangunan. Lalu pertanyaannya, kenapa mereka masih juga bertahan dengan kehidupan yang seperti itu?

Ada yang menjawab, "Jelas enak di pabrik, kalo ada yang nanya kerja dimana, maka jawabnya kerja di pabrik."
hahahaha..... yang beginilah rakyat ini. Terlebih mereka bekerja pada bangsa asing.