14 November



­­­­



“Yang ini dicetak dua kali ya Pak? Trus yang kecil ini jadi cetak seratus kali?”
“Iya Mas. Kira-kira kapan ya bisa jadi?”
“Sekitar tiga harian Pak. Nanti kalau sudah jadi akan saya hubungi Bapak. Terima kasih Pak.”
H
ari itu suasana kantor begitu ramai. Mungkin karena memang kurang satu orang desainer lagi. Yah, yang dimaksud adalah sebuah kantor yang bergerak di bidang digital printing. EraData nama kantor itu. Memang baru beberapa bulan saja kantor ini berdiri. Namun karena di kota kecil ini masih belum banyak digital printing, makanya kantor yang terletak di tengah kota ini pun sangat tepat memposisikan diri.
“Rama, katanya bakal ada anak baru? Mana? Kita bener-bener butuh bantuan nih.” Ujar Doni kesal.
“Sabar dikit kenapa sih? Kata si bos hari ini tuh anak baru udah mulai kerja. Mungkin masuk siang kali?”
“Syukurlah kalo gitu. Cowok ato cewek ya?”
“Tau ah! Kamu itu butuh partner kerja ato nyari gebetan baru sih?” selidik Rama dengan tetap konsentrasi pada pekerjaannya.
“Ya siapa tau bisa cinlok nantinya.” Jawabnya sambil berkelakar.
Masih terlalu pagi untuk menanti waktu istirahat. Karena Rama dan teman-teman satu shiftnya akan istirahat saat pergantian shift nanti. Kurang lebih jam satu siang. Namun pelanggan yang datang silih berganti membuat mereka semua harus mempercepat rasa lapar.
“Nih, ada gorengan dikit. Ayo dimakan dulu mumpung masih hangat.” Tante datang membawa sepiring makanan gorengan. Yang dimaksud tante disini adalah ibu dari pak bos.
“Wah pas banget nih, Tan. Tadi belom sarapan.” Kata Doni menghampiri meja makan. Memang tante sering banget bahkan hampir tiap hari membuatkan camilan untuk karyawannya.
“Wong tiap hari kok ngomongnya belom sarapan. Emang nggak pernah masak?” sindir tante pada Doni.
“Bukan nggak pernah masak Tan.. Tapi nggak sempat sarapan aja. Bangunnya selalu kesiangan.” Kilah Doni sambil mulutnya tengah asik mengunyah makanan.
“Itu namanya orang males. Males kok dipelihara. Ya kan Rama?” kata tante.
“Betul itu, Te.” Jawab Rama singkat. Dia masih tetap berkutat pada layar monitor.
“Kamu gak mau gorengannya ta? Mumpung masih hangat lho. Nanti keburu dihabisin Doni.
“Nanti aja, Te. Nanggung kerjaannya ini. Lagian saya kalo kerja kan selalu fokus.” Aku-aku Rama penuh percaya diri. Hingga Tante, Doni dan juga Fitri yang sedang memotong kertas ikut tertawa.
Rama memang terkenal kocak disini. Dia karyawan paling lama yang bertahan di kantor ini. Makanya tak heran kalau kliennya banyak banget. Obrolan-obrolan ringan suasana kerja ini akhirnya seakan mempersingkat waktu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih lima menit. Dan anak shift kedua sudah beberapa yang datang.
“Selamat siang Mbak, saya Rere. Anak desain yang baru. Hari ini saya sudah mulai bekerja disini Mbak.” Kata seorang cewek berpakaian rapi bersepatu dengan ukuran tubuh yang terbilang tinggi.
“Oh, anak baru ya? Sebentar ya Mbak.” Kata Fitri yang kemudian membuka pintu ruang cetak. “Mas Rama, ini ada mbaknya yang desainer baru.”
“Oh iya Fit. Mana anaknya?” jawab Rama antusias dan langsung menghampiri.
“Mbak ini yang desainer baru?” tanya Rama.
Rere tersenyum sambil menyodorkan tangan kanannya. “Saya Rere, Mas. Desainer yang baru.”
“Rama.” Sambut Rama dengan baik. “Sudah diberitahu sama Pak Josh kan soal pekerjaan disini?”
“Sudah, Mas. Kemarin waktu interview.”
“Oke. Untuk selebihnya akan aku jelasin keadaan disini. Jangan sungkan untuk bertanya kalo ada yang perlu ditanyakan. Oh iya, tempat duduk kamu disebelah sana.” Kata Rama sambil menunjuk sebuah komputer di pojok, lebih tepatnya komputer nomor tiga.
Hari itu berjalan seperti biasanya setiap kali ada karyawan baru. Rama memang dipercaya untuk posisi itu.

***
Hari demi hari telah berlalu.
“Istirahat nanti mau kemana?” tanya Rama pada Rere.
“Umm... kemana ya enaknya? Mau pulang tapi males banget.” Jawab Rere sambil mulutnya sedikit dimonyongkan. Dagunya yang membuatnya terlihat manis semakin mempertegas kecantikannya. Entah sejak kapan Rama mulai memperhatikannya. Yang dia tahu kian lama ia merasakan kedekatan dengan Rere.
“Ya udah ke warung pojok saja yuk? Kebetulan aku juga lagi gak bawa bekal makan.” Dimasukkannya laptop yang sedari tadi dipakai bekerja ke dalam tas.
“Berdua aja?” tanya Rere.
“Yah, maunya sih gitu... Pasti romantis banget nanti. Si cantik dan si tampan makan siang bersama seusai kerja.”
“Umm... gimana ya?”
“Ya ampun Rere.... aku cuman bercanda kok. Kita makan siang berempat. Tuh si Doni sama si Fitri juga ikutan. Lagian ngapain kita berduaan? Nanti kamu jadi GR deh.”
“Yeee.... enak aja. Kamu kali yang mengharap bisa berduaan denganku.” Cibir Rere sambil menepuk pundak Rama.
Kedekatan Rama dan Rere membuat tanda tanya bagi semua penghuni kantor. Mereka tak seperti layaknya seorang teman biasa. Rama yang selalu menggoda Rere, merayu, sampai memberikan banyak perhatian untuk Rere. Demikian halnya dengan Rere yang selalu mengikuti kemanapun Rama berada. Deru tawa mereka berdua selalu mewarnai kantor. Hingga wajah cemburu Rere terlihat saat mengetahui Rama berdekatan dengan salah satu teman wanita di kantor. Walaupun pada kenyataannya Rama dan temannya ini tak memiliki hubungan spesial, sebatas rekan kerja.

***

14 November 2013

MyNameIsRama:
“Happy birthday Rere.... semoga tercapai semua mimpi dan angan. Selalu dalam limpahan nikmat dan ridhoNya. Umm... apalagi ya? Pokoknya aku selalu berdoa yang terbaik untukmu.”

Rere CellalluTersenyum:
“Amin.... Makasih ya Mas ucapan dan doanya... Nanti ikut aku ya Mas, waktu istirahat.”

MyNameIsRama:
“Hah? Kemana?”

Rere CellalluTersenyum:
“Beli makanan. Gak mau ta? Ya udah kalo gak mau.”

MyNameIsRama:
“Yee... bukan gitu kali. Berdua aja nih?”

Rere CellalluTersenyum:
“Iya. Cuman beli makanan doang kok. Nanti dimakan bareng di kantor sama temen-temen semua.”

MyNameIsRama:
“Oh... ceritanya lagi traktiran nih..? Oke lah nanti tak anterin. Habis maghrib aja ya? Sekalian istirahat.”

Rere CellalluTersenyum:
“Iya Mas gak masalah. Tapi aku cuman traktir yang satu shift sama kita. Kira-kira jadi masalah gak ya nanti?”

MyNameIsRama:
“Enggaklah Re... palingan nanti kamu bakalan diguyur tinta sama anak-anak. Haha...”

Rere CellalluTersenyum:
“Wah, ya gak mau aku Mas. Aku nanti pake baju princess. Hehe...”


MyNameIsRama:
“Haduh, kumat deh....”

14 November merupakan hari ulang tahun Rere yang ke-20 tahun. Malam itu diwaktu jam istirahat tiba, Rere dan Rama pergi ke sebuah cafe untuk memesan makanan. Wajah mereka berdua terlihat riang. Nampak sebuah keindahan yang takkan mampu terlukiskan. Sejuta umat pun takkan menyangka bahwa Rere sudah berkeluarga. Apalagi telah memiliki momongan.
Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday Happy birthday, Happy birthday to you....
“Happy birthday Rere...” kata Rama dalam hati. Ia begitu menikmati kebersamaan itu sepanjang hari. Bahkan saat perjalanan pulang pun dengan tak sadar ia tersenyum sendiri. Dan dengan tak sadar pula ia telah terperangkap dalam penjara cinta.

***

Hingga suatu hari Rere berdiam diri enggan berbicara. Terlebih pada Rama. Bahkan ia berkoar pada jejaring sosial mengatakan niatannya untuk resign. Rama yang mengetahui hal itu jadi kepikiran. Ia merasa bingung dengan sikap Rere. Apa yang membuatnya enggan bicara.
“Rere itu cemburu Mas. Gara-gara kamu deketan sama Mbak Manda.” Kata Heru memberitahukan akan perubahan sikap Rere hari itu.
Rama sedikit lega sesudah ia mengetahui penyebab perubahan sikap Rere padanya. Namun kini otaknya kembali dipenuhi sejuta tanda tanya yang lain. Apakah Rere menaruh hati padanya?
“Ah, tidak mungkin.” Kata Rama dalam hati. “Tidak mungkin dia menyukaiku. Dia sudah bersuami bahkan telah memiliki seorang anak.”
Namun hati Rama merasa sakit. Sesak. Gejala orang jatuh cinta. “Oh tidak. Apa aku benar-benar sedang jatuh cinta pada Rere?”

Baca cerita selengkapnya di Buku Antologi Cerpen & Puisi "Ini Hatiku"
Marzocchi; Salah satu penulis Antologi Cerpen & Puisi "Ini hatiku"
 

0 comments:

Post a Comment