“Yang ini dicetak dua kali
ya Pak? Trus yang kecil ini jadi cetak seratus kali?”
“Iya Mas. Kira-kira kapan ya
bisa jadi?”
“Sekitar tiga harian Pak.
Nanti kalau sudah jadi akan saya hubungi Bapak. Terima kasih Pak.”
H
|
ari itu suasana kantor
begitu ramai. Mungkin karena memang kurang satu orang desainer lagi. Yah, yang
dimaksud adalah sebuah kantor yang bergerak di bidang digital printing. EraData
nama kantor itu. Memang baru beberapa bulan saja kantor ini berdiri. Namun
karena di kota kecil ini masih belum banyak digital printing, makanya kantor
yang terletak di tengah kota ini pun sangat tepat memposisikan diri.
“Rama, katanya bakal ada
anak baru? Mana? Kita bener-bener butuh bantuan nih.” Ujar Doni kesal.
“Sabar dikit kenapa sih?
Kata si bos hari ini tuh anak baru udah mulai kerja. Mungkin masuk siang kali?”
“Syukurlah kalo gitu. Cowok
ato cewek ya?”
“Tau ah! Kamu itu butuh
partner kerja ato nyari gebetan baru sih?” selidik Rama dengan tetap
konsentrasi pada pekerjaannya.
“Ya siapa tau bisa cinlok
nantinya.” Jawabnya sambil berkelakar.
Masih terlalu pagi untuk
menanti waktu istirahat. Karena Rama dan teman-teman satu shiftnya akan
istirahat saat pergantian shift nanti. Kurang lebih jam satu siang. Namun
pelanggan yang datang silih berganti membuat mereka semua harus mempercepat
rasa lapar.
“Nih, ada gorengan dikit.
Ayo dimakan dulu mumpung masih hangat.” Tante datang membawa sepiring makanan
gorengan. Yang dimaksud tante disini adalah ibu dari pak bos.
“Wah pas banget nih, Tan. Tadi
belom sarapan.” Kata Doni menghampiri meja makan. Memang tante sering banget
bahkan hampir tiap hari membuatkan camilan untuk karyawannya.
“Wong tiap hari kok
ngomongnya belom sarapan. Emang nggak pernah masak?” sindir tante pada Doni.
“Bukan nggak pernah masak
Tan.. Tapi nggak sempat sarapan aja. Bangunnya selalu kesiangan.” Kilah Doni
sambil mulutnya tengah asik mengunyah makanan.
“Itu namanya orang males.
Males kok dipelihara. Ya kan Rama?” kata tante.
“Betul itu, Te.” Jawab Rama
singkat. Dia masih tetap berkutat pada layar monitor.
“Kamu gak mau gorengannya
ta? Mumpung masih hangat lho. Nanti keburu dihabisin Doni.
“Nanti aja, Te. Nanggung
kerjaannya ini. Lagian saya kalo kerja kan selalu fokus.” Aku-aku Rama penuh
percaya diri. Hingga Tante, Doni dan juga Fitri yang sedang memotong kertas
ikut tertawa.
Rama memang terkenal kocak
disini. Dia karyawan paling lama yang bertahan di kantor ini. Makanya tak heran
kalau kliennya banyak banget. Obrolan-obrolan ringan suasana kerja ini akhirnya
seakan mempersingkat waktu. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu
lebih lima menit. Dan anak shift kedua sudah beberapa yang datang.
“Selamat siang Mbak, saya Rere.
Anak desain yang baru. Hari ini saya sudah mulai bekerja disini Mbak.” Kata
seorang cewek berpakaian rapi bersepatu dengan ukuran tubuh yang terbilang
tinggi.
“Oh, anak baru ya? Sebentar
ya Mbak.” Kata Fitri yang kemudian membuka pintu ruang cetak. “Mas Rama, ini
ada mbaknya yang desainer baru.”
“Oh iya Fit. Mana anaknya?”
jawab Rama antusias dan langsung menghampiri.
“Mbak ini yang
desainer baru?” tanya Rama.
Rere tersenyum sambil
menyodorkan tangan kanannya. “Saya Rere, Mas. Desainer yang baru.”
“Rama.” Sambut Rama dengan
baik. “Sudah diberitahu sama Pak Josh kan soal pekerjaan disini?”
“Sudah, Mas. Kemarin waktu
interview.”
“Oke. Untuk selebihnya akan
aku jelasin keadaan disini. Jangan sungkan untuk bertanya kalo ada yang perlu
ditanyakan. Oh iya, tempat duduk kamu disebelah sana.” Kata Rama sambil
menunjuk sebuah komputer di pojok, lebih tepatnya komputer nomor tiga.
Hari itu berjalan seperti
biasanya setiap kali ada karyawan baru. Rama memang dipercaya untuk posisi itu.
***
Hari demi hari telah
berlalu.
“Istirahat nanti mau
kemana?” tanya Rama pada Rere.
“Umm... kemana ya enaknya?
Mau pulang tapi males banget.” Jawab Rere sambil mulutnya sedikit dimonyongkan.
Dagunya yang membuatnya terlihat manis semakin mempertegas kecantikannya. Entah
sejak kapan Rama mulai memperhatikannya. Yang dia tahu kian lama ia merasakan
kedekatan dengan Rere.
“Ya udah ke warung pojok
saja yuk? Kebetulan aku juga lagi gak bawa bekal makan.” Dimasukkannya laptop
yang sedari tadi dipakai bekerja ke dalam tas.
“Berdua aja?” tanya Rere.
“Yah, maunya sih gitu...
Pasti romantis banget nanti. Si cantik dan si tampan makan siang bersama seusai
kerja.”
“Umm... gimana ya?”
“Ya ampun Rere.... aku cuman
bercanda kok. Kita makan siang berempat. Tuh si Doni sama si Fitri juga ikutan.
Lagian ngapain kita berduaan? Nanti kamu jadi GR deh.”
“Yeee.... enak aja. Kamu
kali yang mengharap bisa berduaan denganku.” Cibir Rere sambil menepuk pundak
Rama.
Kedekatan Rama dan Rere
membuat tanda tanya bagi semua penghuni kantor. Mereka tak seperti layaknya
seorang teman biasa. Rama yang selalu menggoda Rere, merayu, sampai memberikan
banyak perhatian untuk Rere. Demikian halnya dengan Rere yang selalu mengikuti
kemanapun Rama berada. Deru tawa mereka berdua selalu mewarnai kantor. Hingga
wajah cemburu Rere terlihat saat mengetahui Rama berdekatan dengan salah satu
teman wanita di kantor. Walaupun pada kenyataannya Rama dan temannya ini tak
memiliki hubungan spesial, sebatas rekan kerja.
***
14 November 2013
MyNameIsRama:
“Happy
birthday Rere.... semoga tercapai semua mimpi dan angan. Selalu dalam limpahan
nikmat dan ridhoNya. Umm... apalagi ya? Pokoknya aku selalu berdoa yang terbaik
untukmu.”
Rere CellalluTersenyum:
“Amin....
Makasih ya Mas ucapan dan doanya... Nanti ikut aku ya Mas, waktu istirahat.”
MyNameIsRama:
“Hah? Kemana?”
Rere CellalluTersenyum:
“Beli makanan.
Gak mau ta? Ya udah kalo gak mau.”
MyNameIsRama:
“Yee... bukan
gitu kali. Berdua aja nih?”
Rere CellalluTersenyum:
“Iya. Cuman
beli makanan doang kok. Nanti dimakan bareng di kantor sama temen-temen semua.”
MyNameIsRama:
“Oh...
ceritanya lagi traktiran nih..? Oke lah nanti tak anterin. Habis maghrib aja
ya? Sekalian istirahat.”
Rere CellalluTersenyum:
“Iya Mas gak
masalah. Tapi aku cuman traktir yang satu shift sama kita. Kira-kira jadi
masalah gak ya nanti?”
MyNameIsRama:
“Enggaklah
Re... palingan nanti kamu bakalan diguyur tinta sama anak-anak. Haha...”
Rere CellalluTersenyum:
“Wah, ya gak
mau aku Mas. Aku nanti pake baju princess. Hehe...”
MyNameIsRama:
“Haduh, kumat
deh....”
14 November merupakan hari ulang
tahun Rere yang ke-20 tahun. Malam itu diwaktu jam istirahat tiba, Rere dan
Rama pergi ke sebuah cafe untuk memesan makanan. Wajah mereka berdua terlihat
riang. Nampak sebuah keindahan yang takkan mampu terlukiskan. Sejuta umat pun
takkan menyangka bahwa Rere sudah berkeluarga. Apalagi telah memiliki momongan.
Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday Happy
birthday, Happy birthday to you....
“Happy birthday Rere...”
kata Rama dalam hati. Ia begitu menikmati kebersamaan itu sepanjang hari.
Bahkan saat perjalanan pulang pun dengan tak sadar ia tersenyum sendiri. Dan
dengan tak sadar pula ia telah terperangkap dalam penjara cinta.
***
Hingga suatu hari Rere
berdiam diri enggan berbicara. Terlebih pada Rama. Bahkan ia berkoar pada
jejaring sosial mengatakan niatannya untuk resign. Rama yang mengetahui hal itu
jadi kepikiran. Ia merasa bingung dengan sikap Rere. Apa yang membuatnya enggan
bicara.
“Rere itu cemburu Mas.
Gara-gara kamu deketan sama Mbak Manda.” Kata Heru memberitahukan akan
perubahan sikap Rere hari itu.
Rama sedikit lega sesudah ia
mengetahui penyebab perubahan sikap Rere padanya. Namun kini otaknya kembali
dipenuhi sejuta tanda tanya yang lain. Apakah Rere menaruh hati padanya?
“Ah, tidak mungkin.” Kata
Rama dalam hati. “Tidak mungkin dia menyukaiku. Dia sudah bersuami bahkan telah
memiliki seorang anak.”
Namun hati Rama merasa
sakit. Sesak. Gejala orang jatuh cinta. “Oh tidak. Apa aku benar-benar sedang
jatuh cinta pada Rere?”
![]() |
| Marzocchi; Salah satu penulis Antologi Cerpen & Puisi "Ini hatiku" |
+Chachaa_softlight.jpg)

0 comments:
Post a Comment