Your Consultant

"Makasih ya, Mas. Oh ya, aku Rizky…"
"Aku Andre. Emm, sorry. Tadi nama Mbak siapa? Rizky?" "Iya, napa? Aneh ya?"
"Ya nggak sih. Tapi gimana gitu…!"
"Yah, aku ngerti kok. Namaku Rizky Diannita. Tapi aku udah biasa dipanggil Rizky. So, panggil aku Rizky aja ya. Oh ya, gak pakai mbak! Lagian aku kan masih kelas 2 SMA. Sedangkan Mas Andre udah lulus.
 
                   "Gitu ya? Ya udah deh…"
Begitulah awal mula aku kenal sama Rizky. Saat disebuah warnet, computer yang ia tempati bermasalah. Ia mencari­cari operator warnet tapi tidak ada orangnya.
Akhirnya kucoba menawarkan diri untuk mengatasi masalah pada computer yang ia tempati. Dengan sedikit sentuhan lembut permasalahan itu dapat teratasi. Dari situlah aku mulai mengenalnya sampai nomor handphonenya kudapatkan.
"Wah, keren tuh ceritanya. Trus, sampai sekarang masih lanjut kan?" Kata temanku Firman, sambil menghentikan jari­jari tangannya yang dari tadi bergerilya diatas keypad HPnya.
"Ya masih lah ! Malah dia sering kerumahku dan ngajak jalan."
"Lah itu dia ! Langsung tembak aja daripada kabur duluan kayak si Intan. Lagian, dia kan udah nunjukin sikap kalo sebenernya dia ada rasa sama kamu." Menurut pendapat Firman.
"Rasa apaan ! Rasa coklat ?" kataku sambil kuteguk segelas air putih dingin."Ini semua nggak seperti yang kamu bayangkan, Sob. Dia deket sama aku karena menurutnya aku ini orangnya enak diajak ngomong. Setiap kali dia ada masalah pasti curhat sama aku."
"Consultant dong ?!" Ujarnya sambil tertawa.
Tiba­tiba HP aku bunyi. "Panjang umur ni anak. Baru aja di omongin, sekarang SMS." Kataku heran.
"Siapa Ndre? Rizky?" Tanya Firman. Aku hanya menganggukkan kepala. "Kayaknya panggilan darurat nih?"
Kita berdua tertawa. Rizky SMS aku ngajak ketemuan di taman. Katanya dia pengin curhat lagi sama aku. Aku iyakan aja ajakannya. Lagipula sore itu aku tidak ada pekerjaan.


***



"Sore Non…" Sapaku pada Rizky saat sampai di taman.
"Haii, Mas Andre…" Balasnya sambil duduknya bergeser ke kiri.
"Mau curhat apa lagi, nih? Tapi kali ini gak gratis loh!" sebenarnya aku cuma iseng­iseng aja. Tapi dia tanggapi dengan serius.
"Emm Sombong ya sekarang. Iya deh, gak apa­apa gak gratis lagi. Tapi apaan imbalannya?" Katanya sambil menepuk pundakku.
"Gini, hari Minggu besok aku mau kenalin kamu ke teman­teman aku. Gimana, mau nggak?"
"Kok aku sih Mas? Kenapa?"
"Ya nggak apa­apa sih… Tapi aku kan bangga bias jalan bareng sama cewek secantik kamu." Kataku sedikit menggoda.
"Alaah, gombal !"
"Apa lagi nanti ada yang nanya gini, Ndre cewek kamu nih? Pasti malamnya susah tidur aku." Akupun tertawa. "Gimana, mau kan?"
"Idih ! Maunya! Coba aku tebak, pasti Mas belom pernah pacaran ya?” Katanya sambil menunjuk­nunjuk ke arahku.
Lho, kok kamu bisa tau, Riz? Hebat banget kamu!” Aku semakin enjoy

aja.


Ya tahu lah... Lagian siapa yang mau pacaran sama Mas kalo bawaannya

Polygon 125CC!” Jawabnya dengan tertawa.
Hmm, menghina ya. Mentang­mentang bawa motor keluaran terbaru!” Kataku dengan nada keras. “Trus, mau nggak nrima sarat aku?”
Emm... Boleh deh.”
Gitu dong, kan asik jadinya.” Aku tertawa. Jadi curhat apa ini?” Akhirnya bercanda cukup lama, diapun mulai bercerita mengenai
masalahnya. Ternyata dia suka sama teman sekelasnya. Namanya Doni. Tapi si Doni ini cuek banget sama Rizky. Walaupun Rizky udah berkali­kali nylametin Doni dari guru­guru kelasnya karena belom ngerjakan PR, dan Rizky juga udah nunjukin sikap manisnya dihadapan Doni, tapi tetep aja Doni nggak ada perhatian sama Rizky.
Aku berikan saran­saran yang menurutku baik untuk Rizky. Kujelaskan panjang lebar maksudku itu. Sampai akhirnya kita menyudahi pertemuan saat itu.
Thank you very much ya, Mas. Mas Andre memang enak kalo diajak
ngomong.” Begitulah ucapannya setiap kali curhat padaku.




Seminggu kemudian.

***

Eh Ndre ! Itu Rizky kan? Jalan sama siapa tuh anak? Firman mengagetkanku saat melihat Rizky jalan sama Doni.



“... Udahlah, biarin aja dia have fun.” hatiku sempat sakit lihat Rizky akhirnya bisa jadian sama Doni. Tapi cepat­cepat kuhilangkan rasa sakit itu.” Itu tadi cowok yang ia taksir selama ini.”
“What? Kalo kamu mau bersaing sama dia kayaknya berat banget deh. Salah kamu juga, kenapa gak cepat­cepat ditembak,” ditepuknya pundakku beberapa kali sambil jalan menuju toko buku., “Tapi gak ada salahnya kalo kamu tetep nyatain perasaanmu ke dia. Biar lega rasanya dan biar dia tahu kalo kamu suka dia.”
Udahlah gak apa­apa. Aku gak mau setelah dia tahu kalo aku suka sama dia malah dia jauh dariku.” kataku menolak sarannya.
Gitu yah? Ya terserah kamu lah. Tapi aku salut banget sama kamu. Coba aku diposisi kamu. Udah bonyok tuh cowok!” Ujarnya sambil berlaga seperti jagoan.
“Sok jago kamu, Man. Udah ditunggu si Bos. Ayo cepat dikit.” Aku sedikit mempercepat langkahku toko buku tempatku kerja.


***
Seperti biasanya, pulang kerja aku melintasi Jl.Sumatra. Aku lebih memilih lewat jalan ini daripada lewat jalan raya yang selalu ramai dan banyak debu. Saat sedang asik menikmati pemendangan bunga­bunga di tepi jalan, aku melihat sekelompok anak laki­laki berkaos hitam­hitam bersorak­sorak ramai. Jarakku semakin dekat dengan kerumunan itu. Kulihat dua orang cewek yang dipaksa minum minuman botol yang menurutku itu pasti minuman keras. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Saat telah melewati kerumunan itu, baru aku dapat melihat dengan jelas siapa cewek itu.
“Rizky?” Segera kuputar balik arah sepedaku melaju. Kudekati kerumunan

itu.


“Bugh!!” kulayangkan bogemku beberapa kali ke muka anak­anak yang

paling belakang. Menyadari kehadiranku, teman­teman mereka mengeroyokku. Ada juga yang menghancurkan sepeda Polygon kesayanganku. Aku tak bisa melawan mereka lagi karena jumlah mereka terlalu banyak. Saat aku udah mulai pasrah dengan keadaan, tiba­tiba mereka lari semua membawa motor masing­masing. Ternyata
teman Rizky meminta bantuan warga sekitar. Sejumlah warga menghampiriku dan
Rizky yang tergeletak pingsan.
“Rizky! Bangun Riz! Riz!” aku berusaha menyadarkannya. Salah seorang warga menganjurkan untuk segera membawanya pulang. Aku dan teman Rizky membawanya pulang dengan motornya.
Sesampainya di rumah Rizky, aku berusaha menjelaskan apa yang baru terjadi dengan Rizky ke orangtuanya. Mamanya cemas sekali melihat Rizky belum sadarkan diri. Karena badanku juga merasa sakit, maka aku minta ijin pulang.


***



Di tempat kerja.
Ndre, kamu pulang naik apa? Aku antar ya?” kata Firman sambil menutup pintu toko. Firman tahu kalo sepedaku hancur karena peristiwa kemarin.
“Beneran nih...” aku menggodanya.
Ya beneran lah! Apa sih yang enggak buat kamu?” jawabnya sambil menirukan nada bicara seorang cewek. Aku dan teman­teman kerja yang mendengarkannya jadi tertawa.
Eh, Ndre. Jangan pulang dulu ya. Aku masih ada tugas buat kamu.” kata
Bu Ririn, bos aku sambil menyodorkan sebuah kunci kontak.
“Ini apa Bu? Kok saya dikasih kunci kontak?” aku masih belum ngerti maksud Bu Ririn ngasih aku kontak.
Kamu bawa Motor itu,” katanya sambil menunjuk motor Mio putih yang diparkir di bawah pohon mangga,” Terus kamu antar pulang dulu adik Ibu ke rumahnya.”
Adik Bu Ririn yang mana?”
“Itu lho yang duduk di depan kantor ibu.” ditunjuknya seorang cewek yang duduk membelakangi kami di depan kantor Bu Ririn.
Aku segera menaiki motor itu dan menghampiri adik Bu Ririn. Jujur, aku agak jengkel dengan Bu Ririn. Sekarang kan udah waktunya pulang kerja, eh malah disuruh ngantar adiknya pulang. Jangan­jangan rumahnya jauh. Trus pulangnya aku naik apa? Aku terus menggerutu dalam hati sampai tiba di samping adik Bu Ririn. Saat kupandang wajahnya, betapa terkejutnya diriku.
“Rizky?” ternyata Rizky adalah adik Bu Ririn.
Haii...” sapanya sambil tersenyum manis. Sedangkan aku masih terdiam. “Kamu, kok...”
“Iya, aku adik Kak Ririn. Bosnya Mas. Kaget ya?” ujarnya memotong kata­kataku.
Kaget banget! Ya udah ayo aku antar pulang.” kataku sambil turun dari motor ngambil tas belanjaan milik Rizky. Tiba­tiba Rizky menarik tanganku.
Tunggu dulu Mas. Ada yang mau aku tanyakan ke Mas.”
Apaan?” kataku sambil memangdangya serius. Kok serius banget kayaknya.”
“Sebenernya, selama ini Mas Andre anggap aku seperti apa?” wajahnya menatapku semakin serius.
Emm...” aku bingung mau jawab apa. Walaupun sebenernya aku tau maksudnya. Aku menoleh ke arah Firman yang masih berdiri dekat Bu Ririn. Firman mengangkat kedua tangannya dari bawah keatas sambil mulutnya mengucapkan sesuatu dengan tetap tak bersuara. Itu pertanda bahwa ia memberiku semangat. Begitu juga dengan Bu Ririn yang senyum­senyum. Aku...”



Kok jadi gugup gitu sih Mas?” pertanyaan Rizky semakin memberatkanku.
Aku... Sebenernya aku suka sama kamu Riz.” kata­kata itu keluar dari mulutku begitu cepat.
Kenapa gak bilang dari dulu, Mas? Sebenernya aku juga suka sama Mas. Mas selalu bisa buat aku ketawa saat aku lagi sedih.” katanya sambil malu­malu.
Sungguh aku tak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Aku yang selama ini memendam perasaanku padanya. Takut untuk mengatakannya. Takut karena Rizky tak sebanding denganku.
Jadi, kita...” aku mencoba memastikan. Tapi Rizky menganggukkan kepalanya sambil meraih tubuhku. Dapat memeluknya erat bagaikan mimpi bagiku. Aku dan Rizky tertawa. Dan secara bersamaan, teman­teman kerjaku yang menyaksikan kita berdua bersorak­sorak. Begitu juga dengan Firman, ia mengacungkan kedua jempol tangannya.
Tapi Riz, aku kan pengendara Polygon sejati?”
“Iya yah. Sayang banget. Apa kita batalin aja acara jadian kita ya?” “What?!!”


SELESAI
 

0 comments:

Post a Comment