Jujur, aku masih syok saat menulis postingan ini. Lewat beberapa menit lalu, sempat kubuka FB dan seperti biasa jika kerinduan ini tak dapat terbendung lagi, maka segera kuketik namamu pada box Search people. ***n**** demikian kubolak-balik namamu tak juga kutemukan. Dugaanku sementara adalah kamu telah memblok akunku. Agar tak penasaran, aku cari nama akunmu menggunakan FB temanku. Dan ketemu.
Yah, aku menyesal telah mengatakan cinta padamu. Karena pernyataan cintaku, kini kau menjauhiku. Sejurus kemudian kau blokir akun FBku. Kau tahu? Hatiku begitu terluka. Hingga mungkin takkan ada kata yang dapat menerjemahkan sakit ini. Bila saja memungkinkan, seteguk racun ini adalah jawaban.
SEDETIK...
"Bang, ikut..."
Katamu setelah kau lihat aku telah mengenakan peci putih di depan cermin besar. Hari itu... Dan hari-hari itu... Mungkin tepatnya keseharian itu....
Sungguh aku rindu. Serasa sedetik baru saja kita lalui bersama. Dan kini bila ku toleh kiri kanan depan belakang hingga membuatku pusing karena aku meihat segalanya telah berubah. Tak kulihat batang hidungmu disemua sudut hidup ini.
ANDAI....
Andai tak kunyatakan cinta ini
Andai kumampu menahan egoku
Andai aku bertahan menjadi orang yang engkau mau
Andai aku...
Kalimat pengandaian adalah sebentuk keputusasaan. Dan.. Bila saja memungkinkan, seteguk racun ini adalah jawaban.
MENCINTAIMU ADALAH SALAH
Jika saja nanti kau benar-benar jadi dengan dia...
Aku harus terima dengan semua ini. KAU BENAR DAN AKU SALAH. Masa depan adalah prioritas utama. Aku mengerti apa yang selalu kamu ucapkan. Begitu juga orangtuamu. KAU BENAR DAN AKU SALAH. Aku hanya salah satu dari sekian banyak sampah masyarakat. Apa yang bisa kujanjikan tentang masa depan? Bahkan aku meragukan apa esok hari masih kujumpai secangkir kopi di meja makanku.
Dan MENCINTAIMU menjadi BENAR, kala aku lebih dulu dapat menjanjikanmu masa depan melebihi janjinya padamu.
Apa kau mau menungguku? Mungkin dia tak inginkan terburu olehku.
Maafkan aku yang telah mencintaimu.
Mas Budi

0 comments:
Post a Comment