Paling kubenci yaitu saat beranjak tidur namun selalu bayang2 mereka kembali terkenang. Nita, Nanda, Nico, Ismail, Andi, Fajar, Gagas, Roni, Caca, Devi, Nindi, Bella, Wawan, Dani, dll. Aku ingin menciptakan kembali suasana itu. Dimana letak damai bersemayam. Aku ingin perusahaanku ini berkembang pesat hingga bisa mewujudkan impianku yaitu mengumpulkan kembali keluarga kecilku. Aku tahu kesalahan terbesarku ialah bekerja memakai perasaan. Sungguh aku merasa kehilangan mereka yang telah menjelma menjadi separuh nyawa hidupku. Ya Allah Ya Tuhanku.... Ijinkanlah hamba mewujudkan impianku ini. Aku hanya ingin bersama mereka. Tertawa seperti sedia kala. #masbudi
:D
Uppzz!! Jangan kaget baca judul diatas. Ya, yang aku maksud memang si Nikita Willy artis. Lha hubungannya sama aku??
Kenalin... Namaku Andre Ramadhan Budiono. Panggilan menyesuaikan situasi dan kondisi. Perkenalanku dengan Nikita Willy saat aku awal bekerja di perusahaan retail PT. MITRA Swalayan Mojokerto. Lama kelamaan aku dan dia jadi semakin deket. Itu semua seiring dengan karir-ku di dunia graphic design. Saat aku pindah tempat kerja pun si Nikita selalu setia mengikutiku. Kita adalah pasangan romantis yang siap mengkikis gigi orang-orang disekitar. Mungkin perasaan aneh akan selalu menyelimuti setiap orang yang melihat kedekatanku dengan Nikita.
Pernah suatu kali aku sedikit melupakannya. Itu karena kesibukanku bekerja sehingga waktu untuk Nikita menjadi kurang. Tapi mungkin ini yang dinamakan jodoh. Lagi-lagi aku keluar dari perusahaan. Dan kini fokus membuka usaha sendiri. Otomatis waktu untuk Nikita Willy kembali terbuka lebar. Dan barusan ini hasil karya edit fotoku bersama Nikita Willy. Aku ngerasa kita emang ditakdirkan untuk bersama :D
Ok, sudah paham kan? :D yang aku maksud kedekatanku sama Nikita Willy itu contohnya ya seperti ini. Walau hanya sebatas edit foto amatir, tapi ini menjadi hiburan tersendiri bagiku. So, bila kalian mengenalku, maka perkenalkan "Nikita Willy". :D
Aku masih diam tak percaya dengan apa yang aku alami.
Ya Allah. Engkau yang mengajariku cinta. Dalam kegalauan mencoba mencari. Apa makna yang telah kau beri. Tentang memberi dan menerima. Tentang ketulusan dan keikhlasan
Ya Allah. Hari ini aku tersesat jauh. Dalam perjalananku meraih cintamu. Seseorang datang menghadang langkahku. Aku gagal mendapatkanMu. Karena aku memberi seluruh cintaku. Dan menerima fatamorgana ini. Yang telah menjauhkanku dariMu
Ya Allah. Inilah tipu muslihat cinta. Yang kulihat adalah kesenangan dunia. Kebahagiaan semu yang ternyata membuatku menderita. Karena cintaku telah melebihi persembahanku padaMu
Ya Allah. Jika akhirnya tangis dan sesal. Tak bisa lagi menolong. Siapakah yang akan selamatkanku dari siksa ini. Jika bukan karena kasih sayangmu. Ampunilah aku ya Tuhanku. Karena cinta ini telah membutakan matahatiku.
Ya Allah. Bebaskanlah aku dari penjara cinta ini. Biarkan aku kembali padamu. Jangan kau hukum aku atas semua kesalahan ini. Karena mencintainya melebihi cintaku padamu. Seperti yang seharusnya.
Aku punya seorang teman, Nanda namanya. Usianya sih empat tahun lebih muda dia dariku. Makanya dia kayak adikku sendiri. Kita kenal karena pernah dalam satu atap kerja. Dibandingin dengan teman cewekku yang lain, Nanda ini orangnya netral. Dia nggak suka ngegosip ala ibu-ibu. Dan yang pasti dia nggak matre kayak kebanyakan cewek sekarang. Oke, itu sekilas tentang Nanda.
Yang mau aku ceritain itu tentang arti pertemananku dengan Nanda. Oleh sebab PHK, banyak sekali perubahan yang terjadi diwaktu singkat ini. Aku yang masih belajar buka usaha sendiri. Dan teman-teman yang sebagian udah bekerja dan sebagian lagi masih belum. Termasuk Nanda ini. Disaat aku lagi suntuk-suntuknya nih, ya Nanda yang dapat aku hubungi. Sebenernya ada satu lagi teman yang baik, Nico namanya. Tapi berhubung aku sekarang lagi bahas si Nanda, Nico I'm sorry.
Oke, kembali lagi ke topik.
Misalnya saja yang barusan terjadi. Hari Minggu 13 April 2014, waktu itu aku lagi bad mood banget. Aku nggak ngerti harus ngapain. Aku ambil motor lalu tancap gas. Keliling-keliling akhirnya kok berada di daerah Magersari. Kawasan tempat kerjaku sebelumnya. Aku parkirkan motor di taman.
"Nan, kamu lagi dimana? Aku lagi di Taman Magersari nih, suntuk banget." kataku dalam SMS begitu inget Nanda. Tak kusangka dia langsung balas SMS-ku. Dan yang lebih nyenengin lagi, dia berada di Hutan Kota deket dengan lokasiku saat itu.
"Aku lagi di Hutan Kota nih, Bang. Ayo ke Om Eng, Bang." ajaknya pada SMS.
Akhirnya saat itu juga kita ketemuan di warung makan Om Eng, warung langgananku dan teman-teman semua Ex.EXODUS. Biar makin rame, aku SMS juga Ocin alias Nico. Kita bertiga ngobrol kesana-kemari. Rasa suntukku sirna setelah ketemu mereka berdua.
Kesimpulannya, aku sangat membutuhkan teman dalam menapaki hidup ini. Aku merasa takkan berguna tanpa seorang teman. Dan hari ini, Rabu 16 April 2014, Alhamdulillah si Nanda keterima kerja di suatu perusahaan di kota Sidoarjo. Aku ikut senang mendengarnya. Meskipun sebagian dalam diriku merasa kehilangan. Ya, kehilangan seorang teman yang selalu hadir disaat aku butuh. Aku berharap Nanda dapat menemukan kehidupan yang jauh leih baik dari sebelumnya. Dan aku sangat berharap dia takkan pernah melupakanku, yang telah dia anggap sebagai Abangnya sendiri.
Selamat berjuang adikku, Nanda :)
Bang Budi selalu mendoakanmu yang terbaik
Jujur, aku masih syok saat menulis postingan ini. Lewat beberapa menit lalu, sempat kubuka FB dan seperti biasa jika kerinduan ini tak dapat terbendung lagi, maka segera kuketik namamu pada box Search people. ***n**** demikian kubolak-balik namamu tak juga kutemukan. Dugaanku sementara adalah kamu telah memblok akunku. Agar tak penasaran, aku cari nama akunmu menggunakan FB temanku. Dan ketemu.
Yah, aku menyesal telah mengatakan cinta padamu. Karena pernyataan cintaku, kini kau menjauhiku. Sejurus kemudian kau blokir akun FBku. Kau tahu? Hatiku begitu terluka. Hingga mungkin takkan ada kata yang dapat menerjemahkan sakit ini. Bila saja memungkinkan, seteguk racun ini adalah jawaban.
SEDETIK...
"Bang, ikut..."
Katamu setelah kau lihat aku telah mengenakan peci putih di depan cermin besar. Hari itu... Dan hari-hari itu... Mungkin tepatnya keseharian itu....
Sungguh aku rindu. Serasa sedetik baru saja kita lalui bersama. Dan kini bila ku toleh kiri kanan depan belakang hingga membuatku pusing karena aku meihat segalanya telah berubah. Tak kulihat batang hidungmu disemua sudut hidup ini.
ANDAI....
Andai tak kunyatakan cinta ini
Andai kumampu menahan egoku
Andai aku bertahan menjadi orang yang engkau mau
Andai aku...
Kalimat pengandaian adalah sebentuk keputusasaan. Dan.. Bila saja memungkinkan, seteguk racun ini adalah jawaban.
MENCINTAIMU ADALAH SALAH
Jika saja nanti kau benar-benar jadi dengan dia...
Aku harus terima dengan semua ini. KAU BENAR DAN AKU SALAH. Masa depan adalah prioritas utama. Aku mengerti apa yang selalu kamu ucapkan. Begitu juga orangtuamu. KAU BENAR DAN AKU SALAH. Aku hanya salah satu dari sekian banyak sampah masyarakat. Apa yang bisa kujanjikan tentang masa depan? Bahkan aku meragukan apa esok hari masih kujumpai secangkir kopi di meja makanku.
Dan MENCINTAIMU menjadi BENAR, kala aku lebih dulu dapat menjanjikanmu masa depan melebihi janjinya padamu.
Apa kau mau menungguku? Mungkin dia tak inginkan terburu olehku.
Maafkan aku yang telah mencintaimu.
Mas Budi
Tidaaaaak.............!!
Haha... mungkin sebagian besar Anda pernah merasakan dikejar batas waktu atau disebut deadline. Rasanya pasti bingung dengan kewajiban yang harus dilakukan. Karena Anda hanya akan mendapat 2 pilihan, yaitu KERJAKAN atau KEHILANGAN CLIENT.
Makanya, disarankan untuk dapat mengatur waktu lebih bijak lagi. Jika saja orderan yang baru datang dengan deadline yang dirasa terlalu cepat, dan Anda tidak yakin untuk mengerjakannya tepat waktu, maka sebaiknya ditolak saja. Atau dirundingkan lagi siapa tau client Anda mau mengerti. Jangan memaksakan pekerjaan karena nanti hasilnya tidak akan sesuai atau tidak maksimal. Nah, kalo nggak maksimal pasti client Anda juga akan kecewa. Kemungkinan client Anda akan mencari pengganti Anda untuk pekerjaan selanjutnya. PARAH!
Nah, untuk menghadapi deadline, Anda harus memperhatikan poin-poin berikut :
- Pertama dan terpenting tetap tenang. Itu benar-benar membantu.
- Terorganisir. Tulis jadwal dan pekerjaan yang harus Anda lakukan di agenda. Tetap lakukan pekerjaan yang seharusnya Anda lakukan di tempat kerja. Prioritaskan hal terpenting, jadwal di agenda membantu Anda dalam memenuhi tenggat waktu.
- Jika Anda telah membuat komitmen profesional pada diri sendiri, maka Anda harus menyampaikannya. Jika Anda tidak dapat melakukan pekerjaan yang diperintahkan atasan karena masih memiliki pekerjaan yang belum selesai, maka informasikan pada atasan Anda.
- Cobalah untuk berhubungan dengan orang yang berbeda-beda. Hal tersebut, agar Anda dapat mempelajari proses berpikir dan emosi orang yang berbeda-beda. Dengan begitu, Anda tahu bagaimana cara untuk mengatasinya.
- Percaya pada semangat tim rekan kerja. Hindari mendahulukan kepentingan ego Anda, belajar memercayai rekan kerja secara profesional, maka tekanan pekerjaan dapat dirasakan bersama.
Nah, saya sendiri nih belum bisa memenuhi kelima poin tersebut :D Untuk menjadi seorang profesional designer memang dibutuhkan kredibilitas yang tinggi. Selamat menyelesaikan deadline Anda.
Andai aku bisa berpura-pura tak melihatmu
dan mengatakan bahwa tak sedang merindukanmu
Namun bagaimana caranya
Ingin aku memberitahu hatiku bahwa aku tak lagi cinta padamu
Sedang senyatanya kau tahu aku begitu sayang padamu
Semakin jauh semakin terasa bahwa hadirmu sungguh berarti
Aku sedang memandang wajahmu di potret malam
Dan namamu masih terukir indah di dinding langit
AMIRA...
Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini kau tak akan kurelakan sendiri…
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati…
tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati…
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini kau tak akan letih-letihnya kucari…
namun di sela-sela huruf sajak ini kau tak akan letih-letihnya kucari…
(Oleh Sapardi Djoko Damono)
Mohon maaf bagi yang
nggak berkenan dengan artikel saya ini. Sekedar iseng aja (siapa tahu begitu
baca artikel ini kemudian berhenti merokok) daripada nggak ada kerjaan. Artikel
ini menurutku menarik karena bersifat membangun. Tema ini aku angkat setelah dapat
tugas ngetik dari Tabloid Sekolah Jurnal
Maja Tamansiswa. Okey, langsung aja ke materi!
Merokok
perlukah? Bukankah pada kemasan rokok sendiri sudah tertera bahwa “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan
jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan pada janin”, lalu kenapa masih
saja merokok?
Bukan hanya itu saja,
seingat penulis waktu masih sekolah (penulis juga pernah sekolah lho... ^^),
dalam ajaran agama Islam, bahwa menyakiti diri sendiri itu hukumnya dosa dan
haram. Kalo merokok itu dapat membuat kita sakit, berarti sudah jelas kita
telah melakukan dosa. Lalu kenapa masih saja merokok?
Dalam hal ekonomi juga
demikian. Harga rokok juga nggak murah, apalagi orang yang sudah kecanduan
rokok, sehari atau bahkan dalam hitungan jam saja sudah menghabiskan rokok 1
cepet (bahasanya “cepet” apa ya?). Lha terus, habis berapa puluh ribu dalam
sehari hanya untuk kebutuhan merokok yang jelas-jelas merugikan itu? Kalo untuk
yang berduit sih nggak masalah. Tapi yang jadi masalah itu, 70 persen perokok
adalah orang miskin. Nah, padahal cari duit juga nggak gampang. Lalu kenapa
masih juga merokok?
Menurut data yang
terungkap dalam workshop Jurnalis Aksesi FCTC Penguatan Komunikasi dari Ancaman
Asap Rokok yang diselenggarakan oleh
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat indonesia (IAKMI) (28/5), lebih dari sepuluh
orang meninggal diseluruh dunia per menit karena rokok. Artinya dalam sehari
ada 14.400 orang yang meninggal karena rokok. Rokok mengandung empat ribu bahan
kimiawi dan 60 diantaranya bisa menyebabkan penyakit kanker.
Bahaya merokok bukan
hanya ada pada si perokok aja, tapi asap rokok juga membahayakan orang-orang
disekitarnya. Karena, perokok pasif menghisap tiga kali lebih banyak kandungan
dari rokok. Nah, apa nggak kasian tuh sama orang-orang disekitar? Keluarga,
teman yang nggak ngrokok, ato pacar misalnya?
Kembali lagi pada
kemasan rokok yang bertuliskan bahaya merokok. Peringatan bahaya merokok itu
juga dari pemerintah kan? Tapi kenapa masih juga diijinkan adanya pabrik rokok
ato apalah itu. Harusnya larangan merokok sama halnya dengan larangan minuman
keras dan zat psikotropika lainnya.
“Kan rokok membantu
perekonomian negara karena merupakan penghasilan yang sangat besar?”, ada yang
bilang gitu juga. Nggak tahu dah harus jawab apa kalo uda mengeluarkan jurus
itu. Seolah-olah para perokok antusias dengan keadaan perekonomian negara.
Haha... lucu juga.
Denger-denger nih,
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengimbau lembaga penyiaran televisi dan radio
agar tidak menyiarkan iklan rokok pada 31 Mei 2011. Imbauan disampaikan oleh
KPI kepada asosiasi lembaga penyiaran. Nah, kalo berita yang seperti ini aku
suka, nih. Dan sodara-sodara yang pada nggak suka sama rokok pasti juga turut
bergembira. Tepuk tangan....
Satu pesan buat
sodara-sodara sebangsa dan setanah air, terutama bagi anak-anak muda, jangan
coba-coba merasakan menghisap rokok karena itu hanya akan merugikan diri kalian
sendiri dan juga orang lain. Dan untuk yang sudah terlanjur kecanduan merokok,
cobalah untuk pelan-pelan berhenti merokok. Di dunia ini nggak ada yang nggak
mungkin. Kalo kalian pada niat untuk berhenti merokok, aku yakin kalian pasti
bisa.
Marilah bangun
kesadaran diri akan bahaya merokok.
Salam damai dan bebas
asap rokok!
Mungkin ada sebagian dari kita yang memilih menjadi freelancer
dengan pertimbangan kemudahan untuk bekerja dari rumah. Apabila
dibandingkan dengan suasana kantor yang formal serta jam kerja 9-5 yang
kaku, bekerja dari rumah dengan jam kerja yang fleksibel dan kebebasan
dari ‘kostum’ pegawai kantoran memang terdengar jauh lebih menyenangkan.
Masalahnya, benarkah bekerja dari rumah benar-benar seindah yang kita bayangkan?
Get Some, Lose Some
Sesuai dengan pepatah mendasar tentang hidup yang tertulis di atas, menjadi freelancer yang bekerja di rumah ternyata memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Apa saja? Di sini RuangFreelance bakal coba membeberkannya satu persatu.
Jam Kerja. Dibandingkan dengan bekerja di kantor, jam kerja untuk freelancer yang
bekerja di rumah memang lebih fleksibel. Jam kerja dapat disesuaikan
ketika ada urusan pribadi yang dirasa mendesak. Tapi, ada satu hal yang
harus digarisbawahi: bukan berarti dengan bekerja di rumah lantas jam
kerja menjadi lebih ringkas. Batasan antara jam kerja dengan jam
mengerjakan-pekerjaan-rumah seringkali tidak jelas karena dilakukan
secara berselang-seling sehingga sering ditemui freelancer yang bekerja jauh sampai larut malam.
Kostum Kerja. Dengan bekerja di rumah, tentunya kita tidak harus mengenakan pakaian formal seperti kemeja, celana bahan polyester, dsb. Selama kita tidak sedang melakukan live conference
dengan klien, rasanya sah-sah saja bekerja mengenakan piyama, bukan?
Hanya saja untuk beberapa orang, ternyata pakaian yang dikenakan dapat
berdampak psikologis terhadap semangat bekerja. Untuk tipe orang seperti
ini (biasanya, wanita) bekerja dengan pakaian seadanya dapat
berpengaruh negatif terhadap mood.
Produktivitas. Bekerja di kantor berarti memiliki atasan untuk menentukan target yang harus dicapai, memberikan tumpukan tugas dengan deadline
tertentu, sekaligus mengawasi pekerjaan kita. Ukuran produktivitas
dilihat dari beres-tidaknya pekerjaan. Dengan memilih untuk bekerja di
rumah, kita harus berperan sebagai bos yang menyusun target serta deadline untuk diri kita sendiri sekaligus sebagai pegawai. Biasanya, kebiasaan menjadi seorang procastinator merupakan jebakan mental yang cukup berat untuk poin ini.
Profesionalisme. Ketika kita memilih untuk bekerja di rumah,
situasi-situasi dilematis berikut dapat dipastikan sering muncul di
tengah jam kerja yang kita atur sendiri: (1) “Ayah, main sama aku,
yuk!”, atau, (2) “Kamu diam di rumah aja, kan? Bisa antar Mama belanja,
dong?” Intinya, salah satu tantangan terbesar adalah untuk menetapkan
batas antara rumah dan pekerjaan tanpa mengorbankan salah satunya.
Perjalanan. Terlepas dari poin-poin di atas, keuntungan
nyata dari bekerja di rumah adalah: tidak perlu menempuh jarak
berkilo-kilo untuk sampai ke kantor. Waktu menempuh perjalanan dapat
digunakan untuk curi start bekerja. Untuk freelancer yang bertempat tinggal di kota-kota besar, tentunya ini berarti… no morning traffic, yay!
Jadi, setelah membaca pro dan kontra di atas, pilih bekerja di kantor atau di rumah?
Dikutip dari : http://www.ruangfreelance.com/bekerja-di-rumah-vs-bekerja-di-kantor/
Yah, kalimat diatas yang sering menjadikanku motivasi. Aku yakin Tuhan sangat sayang padaku. Dan semua kejadian yang tengah kualami ini bukanlah kutukan melainkan jalan menuju sebuah kesuksesan untukku.
Tepat akhir Februari 2014 kemarin aku resmi di PHK. Padahal aku baru saja mengambil cicilan motor. Seketika itu yang jadi beban pikiranku yaitu bagaimana aku bisa membayar cicilan motor tiap bulan, uang sekolah adikku, juga biaya hidup sehari-hari? Karena aku tulang punggung keluarga. Mau nggak mau aku harus banting tulang. Tapi bagaimana caranya?
Minggu-minggu pertama aku masih giat memasukkan surat lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan. Tapi semuanya nihil. Lama-lama aku sudah bosan dan capek. Uang pun kian menipis. Lantas bagaimana nasibku bulan depan? Akhirnya nekad aku buka usaha setting (desain grafis) di rumah. Lokasinya ada di ruang tamu yang aku ubah menjadi ruang kerjaku. Di dalamnya terpasang poster, netbook, printer, dan beberapa contoh karya KARIKATUR DIGITAL selama ini. Aku bikin kartu nama sendiri dengan printer kecilku. Bikin pricelist juga tentang usahaku. Keliling-keliling ke berbagai tempat untuk menginformasikan usahaku. Esoknya ada beberapa orderan yang masuk. Cukup senang aku mengerjakannya. Hingga dua minggu orderanku lancar dan hasilnya lebih besar dari gaji bulananku di tempat kerja sebelumnya. Aku sangat optimis sekali bahwa aku cocok dengan menjadi wirausaha.
Namun ada yang kurang, aku mencari seorang investor yang tidak lain adalah temanku sendiri. Dia menyediakan mesin laminasi dan ID Card. Lagi-lagi aku yakin dengan usahaku ini. Namun seiring dengan berjalannya waktu, entah kenapa sepi orderan. Semangatku jadi pudar. Rasa sepi kembali mengusik. Karena sebenarnya aku samasekali tidak betah tinggal di rumah.
Berbagai promosi online aku gencarkan, sampai jualan baju segala. Nih lapaknya https://www.facebook.com/amirafashionstyle :)
Oh iya, untung nih ada client yang setia denganku. Yaitu RS.Gatoel Mojokerto. Dan kini aku disibukkan dengan orderan dari RS Gatoel. Aku berharap aku bisa bener2 jadi seorang pengusaha. Seperti dalam buku The Power of Kepepet karya Mas Jaya Setiyabudi. Aku akan terus berjuang untuk menghidupi keluargaku. Insya Allah.
"Makasih
ya, Mas.
Oh ya, aku Rizky…"
"Aku Andre.
Emm, sorry. Tadi nama Mbak
siapa? Rizky?"
"Iya, napa? Aneh ya?"
"Ya
nggak sih. Tapi gimana gitu…!"
"Yah, aku ngerti kok. Namaku Rizky
Diannita. Tapi aku
udah biasa dipanggil Rizky. So, panggil aku Rizky aja ya. Oh ya, gak
pakai mbak! Lagian aku
kan masih
kelas 2 SMA. Sedangkan Mas Andre udah
lulus.
"Gitu ya?
Ya udah deh…"
Begitulah awal mula aku kenal
sama Rizky. Saat disebuah warnet, computer yang ia tempati bermasalah. Ia mencaricari operator
warnet tapi tidak ada orangnya.
Akhirnya kucoba menawarkan diri untuk
mengatasi masalah pada computer yang
ia tempati. Dengan sedikit sentuhan lembut permasalahan itu dapat
teratasi. Dari situlah
aku mulai mengenalnya sampai nomor handphonenya kudapatkan.
"Wah, keren tuh ceritanya. Trus, sampai sekarang masih
lanjut kan?" Kata temanku Firman, sambil menghentikan jarijari tangannya yang dari
tadi bergerilya diatas keypad HPnya.
"Ya
masih lah ! Malah dia sering kerumahku dan
ngajak jalan."
"Lah itu dia ! Langsung tembak aja daripada kabur duluan kayak si Intan.
Lagian, dia kan udah
nunjukin sikap kalo sebenernya dia
ada rasa sama kamu."
Menurut pendapat Firman.
"Rasa apaan !
Rasa coklat ?" kataku sambil kuteguk segelas air putih
dingin."Ini semua nggak
seperti yang kamu bayangkan,
Sob. Dia deket sama aku
karena menurutnya aku ini orangnya
enak diajak ngomong. Setiap kali dia ada
masalah pasti curhat
sama aku."
"Consultant dong
?!" Ujarnya sambil tertawa.
Tibatiba HP aku bunyi. "Panjang umur
ni anak. Baru aja di omongin,
sekarang SMS." Kataku heran.
"Siapa Ndre?
Rizky?" Tanya Firman. Aku
hanya menganggukkan kepala. "Kayaknya panggilan darurat nih?"
Kita berdua tertawa. Rizky SMS aku ngajak ketemuan di taman. Katanya
dia
pengin curhat lagi sama aku. Aku
iyakan aja ajakannya.
Lagipula sore itu aku tidak ada pekerjaan.
***
"Sore Non…"
Sapaku pada Rizky saat sampai di taman.
"Haii, Mas Andre…" Balasnya sambil duduknya
bergeser ke kiri.
"Mau curhat
apa lagi, nih? Tapi kali ini gak
gratis loh!" sebenarnya
aku cuma isengiseng aja. Tapi dia tanggapi dengan serius.
"Emm… Sombong ya
sekarang. Iya deh, gak apaapa gak gratis lagi. Tapi apaan imbalannya?" Katanya sambil menepuk pundakku.
"Gini, hari Minggu besok
aku mau kenalin kamu ke temanteman aku. Gimana, mau nggak?"
"Kok
aku sih Mas? Kenapa?"
"Ya nggak apaapa sih… Tapi aku kan
bangga bias jalan bareng
sama
cewek secantik kamu." Kataku sedikit menggoda.
"Alaah, gombal !"
"Apa lagi nanti ada yang
nanya gini, Ndre cewek
kamu nih? Pasti
malamnya susah tidur aku." Akupun tertawa. "Gimana, mau kan?"
"Idih !
Maunya! Coba aku tebak, pasti Mas belom pernah pacaran ya?” Katanya sambil menunjuknunjuk ke arahku.
“Lho, kok kamu
bisa tau,
Riz? Hebat banget kamu!” Aku semakin enjoy
aja.
“Ya tahu lah... Lagian siapa yang
mau pacaran sama Mas kalo bawaannya
Polygon 125CC!” Jawabnya dengan
tertawa.
“Hmm, menghina ya.
Mentangmentang bawa motor keluaran terbaru!” Kataku dengan nada keras. “Trus,
mau
nggak nrima sarat aku?”
“Emm... Boleh
deh.”
“Gitu dong, kan asik jadinya.” Aku
tertawa. “Jadi curhat apa
ini?”
Akhirnya bercanda
cukup lama, diapun mulai bercerita mengenai
masalahnya. Ternyata dia suka sama teman sekelasnya. Namanya Doni. Tapi si Doni ini cuek banget sama Rizky.
Walaupun Rizky udah berkalikali nylametin Doni dari
guruguru kelasnya karena belom ngerjakan PR, dan Rizky
juga udah nunjukin sikap
manisnya dihadapan
Doni, tapi tetep aja Doni nggak ada perhatian sama Rizky.
Aku
berikan saransaran yang menurutku baik untuk
Rizky. Kujelaskan panjang lebar maksudku itu. Sampai akhirnya kita menyudahi pertemuan saat itu.
“Thank you very much ya, Mas. Mas Andre
memang enak kalo diajak
ngomong.” Begitulah ucapannya setiap kali curhat padaku.
Seminggu kemudian.
***
“Eh Ndre ! Itu
Rizky kan? Jalan sama
siapa tuh
anak? Firman mengagetkanku saat melihat Rizky jalan sama Doni.
“... Udahlah, biarin aja dia
have fun.” hatiku sempat sakit lihat Rizky akhirnya bisa jadian sama Doni.
Tapi cepatcepat kuhilangkan
rasa sakit itu.” Itu
tadi cowok yang ia taksir selama ini.”
“What? Kalo
kamu mau bersaing sama dia kayaknya
berat banget deh. Salah kamu
juga, kenapa gak cepatcepat ditembak,” ditepuknya
pundakku beberapa kali sambil jalan menuju toko buku.,
“Tapi gak ada salahnya kalo kamu tetep nyatain
perasaanmu ke dia.
Biar lega rasanya dan
biar dia tahu kalo kamu suka
dia.”
“Udahlah gak apaapa.
Aku gak mau setelah dia tahu kalo aku suka
sama
dia
malah dia jauh dariku.” kataku menolak sarannya.
“Gitu yah? Ya
terserah kamu lah.
Tapi aku salut banget sama
kamu. Coba aku diposisi kamu.
Udah bonyok tuh cowok!” Ujarnya sambil berlaga seperti jagoan.
“Sok jago kamu, Man.
Udah ditunggu si Bos. Ayo
cepat dikit.” Aku
sedikit mempercepat langkahku
toko buku tempatku kerja.
***
Seperti biasanya, pulang kerja
aku melintasi Jl.Sumatra. Aku lebih memilih lewat jalan ini daripada lewat jalan raya
yang selalu ramai dan banyak debu. Saat sedang asik menikmati pemendangan bungabunga di tepi jalan, aku
melihat
sekelompok anak lakilaki berkaos hitamhitam bersoraksorak
ramai. Jarakku semakin dekat dengan
kerumunan itu. Kulihat dua
orang cewek yang dipaksa minum minuman botol yang
menurutku itu pasti minuman keras. Aku
hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Saat telah melewati kerumunan itu,
baru aku dapat melihat dengan jelas siapa
cewek itu.
“Rizky?” Segera
kuputar balik arah sepedaku melaju. Kudekati kerumunan
itu.
“Bugh!!” kulayangkan
bogemku beberapa kali ke muka anakanak
yang
paling belakang. Menyadari kehadiranku, temanteman mereka mengeroyokku.
Ada juga yang menghancurkan sepeda Polygon
kesayanganku. Aku tak bisa
melawan mereka lagi karena jumlah mereka terlalu banyak. Saat aku udah mulai pasrah dengan keadaan, tibatiba mereka lari semua membawa motor masingmasing. Ternyata
teman Rizky meminta bantuan warga sekitar. Sejumlah warga
menghampiriku dan
Rizky yang tergeletak pingsan.
“Rizky! Bangun
Riz! Riz!” aku berusaha
menyadarkannya. Salah seorang warga
menganjurkan untuk segera membawanya pulang. Aku
dan teman Rizky membawanya pulang
dengan motornya.
Sesampainya di rumah Rizky, aku berusaha menjelaskan apa yang baru terjadi dengan Rizky ke orangtuanya. Mamanya cemas sekali melihat Rizky belum sadarkan diri. Karena badanku juga merasa sakit, maka aku minta ijin pulang.
***
Di tempat kerja.
“Ndre, kamu pulang naik
apa? Aku antar ya?” kata Firman sambil
menutup pintu toko.
Firman tahu
kalo sepedaku hancur karena peristiwa kemarin.
“Beneran nih...” aku
menggodanya.
“Ya beneran
lah! Apa sih
yang enggak buat kamu?” jawabnya sambil menirukan nada bicara seorang cewek. Aku dan temanteman kerja yang
mendengarkannya jadi tertawa.
“Eh, Ndre. Jangan pulang dulu
ya. Aku masih ada tugas buat kamu.” kata
Bu Ririn, bos aku sambil menyodorkan sebuah
kunci kontak.
“Ini apa Bu?
Kok saya dikasih kunci kontak?” aku
masih belum ngerti maksud Bu
Ririn
ngasih
aku kontak.
“Kamu bawa
Motor
itu,” katanya sambil menunjuk motor Mio putih yang diparkir di bawah pohon
mangga,” Terus kamu antar
pulang dulu adik Ibu
ke rumahnya.”
“Adik Bu Ririn
yang mana?”
“Itu lho yang duduk di depan kantor ibu.”
ditunjuknya seorang cewek
yang duduk membelakangi kami di depan
kantor Bu Ririn.
Aku segera menaiki motor itu
dan menghampiri adik Bu
Ririn. Jujur, aku
agak jengkel dengan Bu Ririn. Sekarang kan
udah waktunya pulang kerja, eh malah disuruh ngantar adiknya pulang. Janganjangan rumahnya
jauh. Trus pulangnya aku naik apa? Aku terus menggerutu dalam hati sampai tiba di samping
adik Bu Ririn. Saat
kupandang wajahnya, betapa terkejutnya diriku.
“Rizky?” ternyata Rizky adalah adik Bu Ririn.
“Haii...” sapanya
sambil tersenyum manis.
Sedangkan aku masih terdiam.
“Kamu, kok...”
“Iya, aku adik Kak
Ririn.
Bosnya Mas. Kaget ya?” ujarnya memotong
katakataku.
“Kaget banget! Ya udah ayo aku antar pulang.” kataku sambil turun dari motor ngambil tas belanjaan milik Rizky. Tibatiba Rizky menarik tanganku.
“Tunggu dulu
Mas.
Ada
yang mau aku tanyakan ke Mas.”
“Apaan?” kataku sambil memangdangya serius.
“Kok
serius banget kayaknya.”
“Sebenernya, selama ini Mas Andre anggap
aku seperti apa?” wajahnya
menatapku semakin serius.
“Emm...” aku bingung
mau
jawab apa. Walaupun sebenernya
aku tau maksudnya. Aku
menoleh ke arah Firman yang
masih berdiri dekat Bu
Ririn. Firman mengangkat
kedua tangannya dari bawah keatas sambil mulutnya mengucapkan sesuatu dengan
tetap tak bersuara.
Itu
pertanda bahwa
ia
memberiku semangat. Begitu juga dengan Bu Ririn yang senyumsenyum. “Aku...”
“Kok jadi gugup gitu sih Mas?” pertanyaan Rizky semakin
memberatkanku.
“Aku... Sebenernya aku suka sama kamu
Riz.” katakata itu
keluar dari mulutku begitu cepat.
“Kenapa gak
bilang dari dulu, Mas? Sebenernya aku juga suka sama Mas.
Mas
selalu bisa
buat aku ketawa saat aku lagi sedih.” katanya sambil malumalu.
Sungguh aku tak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Aku
yang selama ini memendam perasaanku
padanya. Takut untuk mengatakannya. Takut karena Rizky tak sebanding denganku.
“Jadi, kita...” aku mencoba memastikan. Tapi Rizky menganggukkan
kepalanya sambil meraih tubuhku. Dapat memeluknya erat bagaikan mimpi bagiku. Aku
dan Rizky tertawa. Dan
secara bersamaan, temanteman kerjaku yang menyaksikan kita berdua bersoraksorak.
Begitu juga dengan Firman, ia mengacungkan kedua jempol tangannya.
“Tapi Riz, aku kan pengendara Polygon sejati?”
“Iya yah. Sayang banget. Apa kita batalin aja acara jadian kita ya?”
“What?!!”
SELESAI
Subscribe to:
Comments (Atom)
+Andre+Lao+-+Nikita+Willy+-+Dinner.jpg)
+Andre+Lao+-+Nikita+Willy+-+gendong+anak.jpg)









+wirausaha+anti+PHK+-+preview.jpg)
