Pilih Bekerja di Kantor atau di Rumah

Mungkin ada sebagian dari kita yang memilih menjadi freelancer dengan pertimbangan kemudahan untuk bekerja dari rumah. Apabila dibandingkan dengan suasana kantor yang formal serta jam kerja 9-5 yang kaku, bekerja dari rumah dengan jam kerja yang fleksibel dan kebebasan dari ‘kostum’ pegawai kantoran memang terdengar jauh lebih menyenangkan. Masalahnya, benarkah bekerja dari rumah benar-benar seindah yang kita bayangkan?


Get Some, Lose Some
Sesuai dengan pepatah mendasar tentang hidup yang tertulis di atas, menjadi freelancer yang bekerja di rumah ternyata memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Apa saja? Di sini RuangFreelance bakal coba membeberkannya satu persatu.

Jam Kerja. Dibandingkan dengan bekerja di kantor, jam kerja untuk freelancer yang bekerja di rumah memang lebih fleksibel. Jam kerja dapat disesuaikan ketika ada urusan pribadi yang dirasa mendesak. Tapi, ada satu hal yang harus digarisbawahi: bukan berarti dengan bekerja di rumah lantas jam kerja menjadi lebih ringkas. Batasan antara jam kerja dengan jam mengerjakan-pekerjaan-rumah seringkali tidak jelas karena dilakukan secara berselang-seling sehingga sering ditemui freelancer yang bekerja jauh sampai larut malam.

Kostum Kerja. Dengan bekerja di rumah, tentunya kita tidak harus mengenakan pakaian formal seperti kemeja, celana bahan polyester, dsb. Selama kita tidak sedang melakukan live conference dengan klien, rasanya sah-sah saja bekerja mengenakan piyama, bukan? Hanya saja untuk beberapa orang, ternyata pakaian yang dikenakan dapat berdampak psikologis terhadap semangat bekerja. Untuk tipe orang seperti ini (biasanya, wanita) bekerja dengan pakaian seadanya dapat berpengaruh negatif terhadap mood.

Produktivitas. Bekerja di kantor berarti memiliki atasan untuk menentukan target yang harus dicapai, memberikan tumpukan tugas dengan deadline tertentu, sekaligus mengawasi pekerjaan kita. Ukuran produktivitas dilihat dari beres-tidaknya pekerjaan. Dengan memilih untuk bekerja di rumah, kita harus berperan sebagai bos yang menyusun target serta deadline untuk diri kita sendiri sekaligus sebagai pegawai. Biasanya, kebiasaan menjadi seorang procastinator merupakan jebakan mental yang cukup berat untuk poin ini.

Profesionalisme. Ketika kita memilih untuk bekerja di rumah, situasi-situasi dilematis berikut dapat dipastikan sering muncul di tengah jam kerja yang kita atur sendiri: (1) “Ayah, main sama aku, yuk!”, atau, (2) “Kamu diam di rumah aja, kan? Bisa antar Mama belanja, dong?” Intinya, salah satu tantangan terbesar adalah untuk menetapkan batas antara rumah dan pekerjaan tanpa mengorbankan salah satunya.

Perjalanan. Terlepas dari poin-poin di atas, keuntungan nyata dari bekerja di rumah adalah: tidak perlu menempuh jarak berkilo-kilo untuk sampai ke kantor. Waktu menempuh perjalanan dapat digunakan untuk curi start bekerja. Untuk freelancer yang bertempat tinggal di kota-kota besar, tentunya ini berarti… no morning traffic, yay! :D
Jadi, setelah membaca pro dan kontra di atas, pilih bekerja di kantor atau di rumah?



Dikutip dari : http://www.ruangfreelance.com/bekerja-di-rumah-vs-bekerja-di-kantor/

0 comments:

Post a Comment